Postingan

Disaat yang lain pergi kamu tetap disini, terima kasih

Aku menyadari kekurangan kita, yang terkadang membuatku frustasi dan ingin menyerah akibat kerisauan yang mendalam, ya, aku takut perbedaan ideologi, budaya, serta latar belakang keluarga kita tak mampu menjamin kebahagiaan keluarga kecil kita ke depan kelak.  Aku tipe pemikir dan pencemas. Begitu juga kau. Tapi semakin lama hubungan ini terjalin semakin aku melihat perubahan darimu. Ya sayang, kau menjadi semakin dewasa dan matang. Diam-diam hatiku meragu untuk pergi dan merelakanmu pada gadis manapun di dunia ini.  Di saat aku terjatuh dan gagal, kau yang pertama kali mengulurkan tanganmu, mengajakku berdiri. Aku tahu, keluargaku akan melakukan hal yang sama, tapi aku tak pernah menceritakan apapun masalahku pada keluarga karena kau tahu sudah cukup mereka dipersulit oleh keadaan dan aku tidak mau menambah beban mereka dengan masalahku.  Mulailah, ketika cobaan menderaku bertubi-tubi, disanalah kau berdiri, menawarkan beragam keindahan supaya aku bisa ters...

Mereka (Sahabat Koas) yang menemaniku berpetualang di RSUDZA

Menceritakan mereka ibarat menuliskan kata sakral dengan tinta emas yang mahal, harus sangat hati-hati agar goresannya sempurna. Bersama mereka bagaikan pengkristalan. Momen abadi yang tak pernah terakhiri. Tuhan memilihku untuk hadir dalam catatan kehidupan mereka. Melewati ratusan hari yang mungkin  berakhir beberapa bulan lagi. Masing-masing lepas dari ikatan untuk berjuang dengan masa depan kami sendiri-sendiri meski aku yakin.Akan selalu ada benang yang mengikat kami.. jalinan persahabatan yang ku harap tetap kuat sejauh apapun kami berpencar. Karena koneksi ada di hati bukan tekhnologi. Karena kebersamaan tak mutlak hanya dalam bentuk tegur sapa atau berjumpa bisa juga dengan saling mendoa. Ratusan hari aku lewatkan bersama mereka dan hari ini tak ada sesal memilih kereta yang ku tumpangi ini. Kereta yang membawaku dalam stasiun stasiun penuh warna. Rel demi rel kami lalui dan kami tahu belum saatnya menyerah. Jalan keluar masih sangat panjang dan akan terus panjang hing...

Tuhan Ini air mataku Tak pernah Palsu

Tuhan.. Hari ini aku ingin bercerita.. Tentang rindu yang di bawa  matahari saat gelap menenggelamkannya pergi. akankah Kau kirimkan bulan sebagai pengganti. Serta bintang tuk hiasi langit gelap ini? Tuhan.. Hari ini keluh kesah ku adu Hati kelu yang berharu biru menanti cahaya pagi yang bisu bercumbu dengan hidup yang tak mau tahu Hari ini aku adalah aku dan selalu menjadi aku tapi ke depan tolong bantu aku miliki hidup baru beri cahaya bagi keluargaku... Tuhanku.. mungkin aku tak bisa jadi matahari tapi cukup aku jadi Lampu bagi orang yang ku cinta kemudian hari Tak sanggup kulihat dua makhluk yang ridha mereka adaah ridhaMu.. bersusah payah sejak dulu sampai saat ini. Demi Aku Tuhan Terangi langkahku mudahkan jalanku aku ingin akhiri bukan deritaku tapi derita mereka Ayah dan IBU Tuhan.. hari ini aku ingin kau saksikan ini air mataku dan tak pernah palsu.. afry's room 9 nov 2014

Pidato tanpa teks Bu Menteri Susi Pudjiastuti saat SERTIJAB

Dari pidatonya jelas terlihat bahwa ilmu beliau itu luas. Bangku pendidikan terkadang hanya merupakan formalitas atau pun wadah untuk berkembang. Titel serta embel embel mungkin hanya patokan patokan normalitas dunia saat ini. Tapi Lihatlah kecerdasan itu bisa diperoleh dimana saja. Bu Menteri yang satu ini. Ibu Susi Pudjiastuti memang cuma tamatan SMP.. Tapi kecerdasannya tak beda Jauh dengan tamatan S2 atau pun S3. Ayo. Mari menilai hasil ke depan. Bukan masa lalu ataupun saat ini.Apalagi mngomentari karakter atau kebiasaan beliau yang jelas-jelas bukan hak kita. Pidato tanpa teks yang disampaikan Bu Susi pada serah terima jabatan cukup buat saya optimis akan kematangan pola pikir beliau yang akan memberikan kemajuan terhadap perikanan Indonesia ke depan.....Amin Hidup bu Susi Yang saya hormati, Pak Cicip, Daniel Kaiser ayah dari anak saya. Saya habis kata-kata dan hari ini kalian kasih wejangan yang luar biasa bagi saya. Dari kemarin saya sudah berdiskusi dengan seluruh peja...

Aku masih merindukanmu. Sahabat

Gambar
Selamat pagi Mukhirah. Lalaku tersayang.. sekarang ini usiaku sudah 24 tahun jalan 25.  Aku sudah cukup tua bukan..?  Jangan menertawaiku. Kau pasti masih tetap belia disana. Aku membayangkan ada sayap tipis keperakan tumbuh di punggungmu bagai seorang peri dengan lingkaran kecil membumbung di atas kepalamu. Malaikat.  Kau pasti cantik sekali sahabatku.  Dengan rambut ikal panjangmu yang terurai indah.. Kau wanita tercantik pertama yang menjadi sahabatku sampai saat ini..Setelah Haura lahir dia telah menjadi gadis kesayanganku yang paling cantik setelah Kamu. Rambutnya persis kamu. Bibir tipisnya juga sama. Tapi sifatnya mirip sekali aku. Siapa dia?? kau pasti bingung. Bukan. Dia bukan anakku. Aku belum menikah sayang. Dia keponakanku...Anak dari kakak kandungku tercinta kau penasaran. Ini fotonya  Dia benar benar cantik kan? lihatlah rambutnya seperti rambutmu... Dia juga sangat cerdas. Usianya 3 tahun. sudah bisa membaca sedikit. Mengaj...

Merindukan hujan (Sebuah puisi untukmu)

Hari ini yang kesekian untuk masa yang terlewatkan tentang rasa di balik awan  yang menyembunyikan hujan.. Hari ini hari kesekian penantian tumpahnya hujan yang entah sudah berapa lama mengurung diri dalam tubuh sang awan.. Hari ini hari kesekian jemari melambung ke udara menanti tetesan hujan tapi rinai itu pun tak kunjung datang wahai sang awan sampai berapa lama kau sembunyikan awan lihat tubuhmu sudah demikian menghitam sesak oleh timbunan air hujan keluarkanlah meski saat itu pula kau akan menghilang.. afry's room october 2014 06.00 bada subuh

Catatan Hati Seorang Hamba

Tuhan hari ini aku adalah terdakwa terhadap takdir yang telah ku ciptakan sendiri. Entah dapat aku menerjemahkannya sebagai imbalan atau kah sebuah cobaan.Karena aku yakin tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa kehendak dariMu .. Mungkin secara tidak sadar, keyakinan keyakinan negatif dan kecemasan yang tidak penting menjelma menjadi sebuah doa yang pada akhirnya berujung ke realita. Apa yang tidak kuinginkan kejadian. Apa yang ku sepelekan pada akhirnya adalah hambatan yang menghalangi jalanku yang awalnya lurus dan mulus. Kemalasan yang menjadi jadi membuatku semakin terpuruk. Semuanya setimpal dan seimbang. Bukankah hasil sesuai dengan usaha. Apa yang kita tanam itulah yang kita peroleh. Sementara aku hanya menanamkan sedikit dan berharap lebih. Kemudian saat hasil yang ku dapat bertentangan dengan yang aku harapkan aku menjadi marah, menyalahkan banyak hal. Sebenarnya aku juga turut inatropeksi Tuhan. Tentang diriku. Tentang ruinitasku yang amburadul.Aku paham betul kesalah...